Magang di Penerbit Buku Mojok memberikan kesempatan berharga untuk mengalami langsung bagaimana sebuah naskah dapat tumbuh menjadi buku. Pada satu setengah bulan terakhir masa magang, beberapa peserta magang, termasuk mahasiswa UGM diberi kesempatan untuk menyusun sebuah buku secara kolektif. Proses ini dimulai dari percakapan-percakapan ringan tentang pengalaman sehari-hari, hal-hal yang kerap mengusik pikiran, hingga kegelisahan generasi muda yang sering kali dipandang sebelah mata. Dari situ, mulai dirumuskan tema dan pendekatan yang terasa jujur, tapi tetap relevan bagi pembaca yang lebih luas. Akhirnya, ditetapkan judul buku itu Ini Hidup Pertamaku, Maaf Kalau Banyak Keliru.
Di awal proses penulisan, sempat muncul keraguan, apakah cerita yang dibawa cukup bernilai atau justru terlalu personal untuk dibagikan. Namun, dengan bimbingan dari editor yang tidak hanya memberi catatan teknis, tetapi juga membuka ruang eksplorasi, kepercayaan diri mulai tumbuh. Ketika akhirnya naskah dinyatakan layak terbit, timbul kesadaran bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan juga tentang keberanian. Menjaga konsistensi tulisan, menyusun kalimat dengan lebih cermat, serta tetap mempertahankan nada personal menjadi kekuatan utama dalam menulis. Selain itu, juga diperlukan keterbukaan pikiran serta kesabaran untuk bertahan dalam proses yang panjang. Pengalaman ini menjadi pondasi penting dalam perjalanan kepenulisan, bukan semata karena hasil akhirnya berbentuk buku, tetapi karena mengajarkan apa arti berproses dalam menulis.